Tahap Tumbuh Kembang Anak 0-2 tahun

http://www.ayahbunda.co.id

 

Memahami Tahapan Perkembangan Sosial-Emosi Bayi
Meliana Simarmata

Setiap aspek dalam tahap perkembangan bayi kecil Anda pasti amat menarik untuk diperhatikan. Entah itu saat dia mulai bisa tersenyum, tertawa, merangkak, duduk, berdiri, berespon ketika diajak bicara, ataupun menunjukkan kemampuan lain yang sesuai dengan tahapan perkembangannya. Tentunya, Anda pun ingin menjadi saksi pertama atas seluruh kebisaannya itu.

Walaupun setiap bayi memiliki keunikannya sendiri, namun pada umumnya, setiap bayi memiliki tahapan perkembangan emosi yang dapat diprediksi polanya. Berikut kami berikan panduannya untuk Anda.


Usia 0-3 bulan
Bayi yang berusia 0-3 bulan sudah mulai dapat beraksi terhadap pandangan dan suara. Untuk beberapa detik, bayi sudah mulai bisa melihat dan menatap Anda, bahkan memberikan respon jika diajak bicara atau tersenyum. Bayi mungil Anda mungkin seringkali menangis, namun biasanya bisa segera diatasi dengan memberinya rasa nyaman melalui pelukan, diberi makan, diganti popoknya, digendong ataupun diajak bicara. Selain itu mereka juga sudah mulai dapat mengenali orang-orang yang sering dilihat atau berada di dekatnya.

Karena pada 3 bulan pertama ini bayi sepenuhnya bergantung pada Anda, maka kebutuhannya untuk mengatasi perasaan negatif yang dialaminya, seperti stres, takut, frustrasi dan lain sebagainya juga sepenuhnya berada pada tangan Anda. Pada saat ini, yang terpenting baginya adalah merasakan bahwa orangtuanya selalu ada untuknya, setiap kali ia membutuhkan. Dengan begitu, kepercayaannya terhadap Anda pun mulai terbentuk. Rene Brummage, pakar perkembangan anak mengatakan, Lingkungan anak memegang peranan yang penting dalam membentuk kepribadiannya. Lingkungan yang penuh kasih sayang akan mendorongnya memiliki emosi yang stabil. Sebaliknya, lingkungan yang penuh dengan tekanan akan membuatnya tumbuh dalam ketakutan.


usia 3-6 bulan
Pada masa ini, bagian otak bayi yang membantunya mengatasi dan mengontrol emosi mulai tumbuh. Dia pun menikmati interaksi dengan orang lain dan menunjukkan minat yang sangat besar dalam melihat wajah orang lain. Para ahli meyakini, ekspresi dan aneka simbol yang ditunjukkan oleh wajah tak hanya dapat membantunya membangun hubungan dengan dunia tetapi juga dapat menolongnya membangun ikatan emosi yang kuat dengan orang-orang yang menyayanginya, terutama Anda orangtuanya. Dari setiap respon yang diberikan orang-orang dewasa di sekitarnya, ia belajar bahwa senyuman, tangisan, dan hal-hal lain yang dilakukannya dapat memberinya respon emosional balik.

Untuk membantu perkembangannya, cobalah untuk melakukan permainan kata atau mencoba membuat bunyi-bunyian bersama. Kemudian doronglah dia untuk mencoba menirukan bunyi-bunyian yang disukainya. Walaupun dia belum mengerti, Anda harus berusaha untuk terus berinteraksi dengannya melalui obrolan, membacakan cerita ataupun bernyanyi untuknya. Cara lain yang bisa Anda lakukan adalah bermain si kecil di depan kaca. Rene mengatakan, ?Cara ini tak hanya dapat memberinya pandangan yang lebih baik tentang dirinya tapi juga dapat mendorong perkembangan emosi yang positif terhadap sosok yang dilihatnya di cermin.?

Untuk menunjukkan perasaan tidak senang, bayi mungil Anda kini sudah mulai dapat menunjukkannya dengan mengeluarkan suara-suara lain selain menangis. Jika ia merasa senang, ia pun dapat menunjukkannya dengan senyum, tertawa atau memperdengarkan suara-suara menyenangkan lainnya. Intinya, bayi Anda sangat suka diperhatikan dan tersenyum pada orang-orang yang dikenalnya. Sebaliknya ia pun bisa menunjukkan rasa takut jika berada dekat dengan orang-orang baru.


usia 6-9 Bulan
Selama tahap ini, bayi yang diasuh dengan penuh cinta dan kasih sayang yang konsisten sudah memiliki ikatan sosial emosi yang kuat dengan orangtua dan pengasuh lain yang penting dalam hidupnya. Semakin kuat ikatan, semakin kuat pula kepercayaan si kecil. Dalam memorinya, ia pun telah membeda-bedakan orang di sekitarnya menjadi dua yaitu, orang yang disukainya atau orang asing. Karena itu, ia pun mulai menunjukkan rasa kehilangan dan protes yang kuat (separation anxiety) jika berada jauh dari orang yang dekat dengannya.

Hillary Kruger MD, pakar perkembangan dan perilaku anak menambahkan, bayi pada periode ini sudah dapat mengetahui jika orangtuanya meninggalkan ruangan lalu kemudian mencarinya. Ketakutan dan ketidaksukaannya terhadap orang asing pung semakin kuat ditunjukkan (stranger anxiety), misalnya dengan menangis atau dengan berlindung pada Anda. Mereka juga sudah mulai menunjukkan penolakan terhadap sesuatu hal yang tidak disukai. Saat terbangun di malam hari, beberapa bayi pada usia ini berusaha mengatasi ketidaknyamanannya dengan memegang atau menggigit mainan yang disukai atau bahkan jarinya sendiri. Menginjak usia 8 bulan ke atas, bayi Anda mulai menyukai permaian petak umpet. Sembunyikanlah mainan kesukaannya di bawah selimut, dan lihatlah bagaimana ia berusaha untuk menemukannya.


usia 9-12 Bulan
Pada tahap ini rasa takut terhadap orang asing dan kelekatan terhadap orang-orang yang memiliki arti khusus buatnya masih akan terus berlanjut tapi akan berangsur-angsur berkurang. Ekspresi, gerakan tubuh dan suara untuk menunjukkan perasaannya pun sudah berkembang semakin kompleks. Interaksi sosialnya pun makin berkembang. Hal ini ini ditunjukkan dengan ketertarikannya untuk mulai bermain dengan orang lain.

Hillary mengatakan, mendekati usia satu tahun anak mulai menikmati permainan yang bersifat resiprokal (berbalasan), seperti menggelindingkan dan menangkap kembali bola. Sejalan dengan pertumbuhan fisiknya yang memungkinkan dia untuk bergerak lebih bebas ke sana-ke mari, ketertarikannya pun tumbuh semakin besar untuk mengeksplorasi dunia sekitarnya. Menurut Hillary, hal itu biasanya ditunjukkannya dengan menunjuk suatu objek yang menarik agar orangtuanya pun ikut memberikan fokus dan perhatiannya.

 

Tumbuh Kembang Anak 13-15 bulan
Sonya Tampubolon

Rasanya memang tidak pernah membosankan mengikuti perkembangan si kecil. Apalagi saat dia sudah memasuki tahun-tahun pertamanya. Begitu banyak hal baru yang mulai dilakukannya, terutama berkaitan dengan fungsi motorik kasarnya.

Kebebasan Menjelajah
Salah satu hal baru yang mulai dilakukan anak pada usia di atas 1 tahun ialah keterampilan berjalan. Grafik Milestone mencatat pada umumnya anak memulai proses belajar berjalan sejak usianya minimal 9 bulan sampai maksimal 18 bulan.

Usia 13 bulan:
Proses anak belajar berjalan antara lain ditandai dengan anak merangkak, berjongkok, berdiri sendiri, menjaga keseimbangan dan mulai berjalan sedikit demi sedikit. Namun jangan terkejut bila salah satu implikasi dari proses ini anak akan sangat sulit digendong, dipangku atau ditahan di satu tempat. Hal ini wajar, karena ia baru saja merasakan kebebasan untuk menjelajah.

Tidak perlu terlalu panik apabila anak sering terjatuh, tahanlah keinginan untuk segera bergegas mengangkat dan mengobatinya, kecuali jika dia memang benar-benar terluka. Terjatuh sesungguhnya merupakan bagian dari proses belajar berjalan itu sendiri. Bersabarlah dan sediakan tempat yang aman bagi si kecil untuk bereksplorasi dalam kebebasan barunya.

Anda juga tidak perlu terlalu buru-buru membelikan sepatu. Berjalan telanjang kaki di atas rumput atau pasir sebenarnya baik untuk batita, karena hal tersebut membantu perkembangan otot telapak kaki, juga mengasah rasa untuk keseimbangan tubuh. Namun jika anak sudah mulai mampu dan mau berjalan ke tempat-tempat yang bisa melukai kakinya, Anda juga perlu memakaikannya sepatu. Sepatu yang baik tidak harus mahal, yang penting perhatikan bahan dan ukuran yang pas.

Usia 14 bulan:
ketika anak sudah bisa berjalan selama beberapa minggu atau bahkan bulan, maka kepercayaan diri dan kemapanan anak pun semakin bertambah tiap harinya. Biasanya pada usia ini anak mulai senang memindahkan objek dari satu tempat ke tempat lain, sepertinya mereka tidak pernah lelah mendorong kotak atau ember mengelilingi ruangan. Bahkan anak akan mulai memanjat ke kursi atau meja. Antusiasmenya dalam menjelajah bisa saja melebihi kemampuannya, jadi Anda perlu memonitor eksplorasinya dengan lebih waspada.

Usia 15 bulan:
Meski mungkin belum dapat menapakkan kaki dengan sempurna, batita Anda semakin ingin mencoba berbagai cara berbeda dalam bergerak. Ia akan mencoba memanjat, berlari kecil, meloncat, melompat sampai berlari kencang. 

 

 

Pekerjaan Tangan

 

Usia 13 bulan:
Anak mulai membiasakan diri menggunakan tangannya. Umumnya pada usia ini anak menyukai pekerjaan tangan berupa memasukkan dan mengeluarkan, misalnya meletakkan mainan ke dalam kotak lalu melemparkannya kembali ke luar. Atau terkadang anak akan menyusun menara kecil dari 2-3 kotak kecil kemudian meruntuhkannya.

Usia 14 bulan:
Anak sedang mengasah indera perabanya terhadap berbagai macam sentuhan. Mereka ingin menyentuh dan merasakan apapun dengan tangan mereka: hewan peliharaan, tanaman di halaman rumah, atau kucuran air dari keran. Hal ini penting bagi batita, sebagai salah satu cara untuk mengingat karakteristik dan detail dari berbagai objek yang berbeda. Anda dapat pula membantu proses belajar sentuhan, melalui berbagai permainan dan aktivitas yang menggunakan berbagai macam benda yang karakteristiknya berbeda-beda.

Usia 15 bulan:
Lipstik, jam tangan, sisir, atau pensil bisa menjadi objek yang luar biasa dan sangat menarik bagi si anak 15 bulan. Bukan hanya karena objek-objek tersebut menarik untuk dilihat, tapi karena dia melihat Anda menggunakannya dan dia ingin melakukan hal yang sama. Masalahnya, Anda mungkin tidak mau batita Anda mencoba lipstik Anda! Oleh sebab itu tantangan bagi orangtua adalah mencari cara untuk meniru apa yang Anda lakukan tapi secara aman. Mungkin Anda dapat menyediakan satu set perlengkapan miliknya sendiri, seperti sisirnya sendiri untuk digunakan saat dia ingin meniru Anda merapikan rambut.

 

Tumbuh Kembang Anak 16 -18 bulan
Sonya Tampubolon

 

Memasuki usia 16-18 bulan tentunya akan ada hal-hal baru yang dialami dan dipelajari oleh anak. Bukan hanya anak yang harus siap menghadapinya, orangtua pun harus memahami dan mempersiapkan diri.

Ambisi Berpetualang
Anak pada usia 16-17 bulan rasa ingin tahunya sangat besar, umumnya mereka akan merebut benda apa saja yang ada di sekitarnya, mengamati dengan cermat, memasukkan ke dalam mulut atau membantingnya ke lantai. Umumnya anak juga berambisi untuk menguji kemampuan mereka sendiri.

Menyadari dirinya sudah bisa berjalan, anak kemudian berusaha untuk berjalan sambil membawa beban. Begitu pula jika anak sudah yakin dia bisa memanjat ke atas sofa, ia akan berusaha memanjat ke kursi atau meja yang letaknya lebih tinggi.

Jika ambisi petualangannya ini tidak diawasi dengan cermat, anak bisa terancam bahaya. Misalnya saat dia mencoba berpetualang di dapur dan mengambil pisau yang tergeletak di meja, atau memutar tombol kompor gas. Akan tetapi petualangannya tersebut juga sebaiknya jangan dihalang-halangi, sebab hal tersebut bermanfaat untuk mengasah keahlian anak dalam bergerak.

Untuk itu, langkah yang paling bijaksana ialah memberi kesempatan dan tempat yang aman dan nyaman bagi anak untuk memenuhi ambisi petualangannya. Pada usia ini anak juga dapat Anda ajak dalam permainan jongkok, berdiri dan melompat-lompat.

Tangan Kanan dan Tangan Kiri
Pada rentang usia ini balita Anda mulai menunjukkan kecenderungannya, lebih sering menggunakan tangan kanan atau tangan kiri. Oleh sebab itu, pada usia ini pula Anda dapat mulai melatihnya membedakan fungsi tangan kanan dan kiri.
Yang perlu diingat, orangtua jangan terlalu keras menegur dan memaksa anak untuk menggunakan tangan yang benar, misalnya tangan kanan saat memegang makanan. Proses pemilihan tangan untuk melakukan suatu aktivitas akan berjalan secara natural meskipun pola pembiasaan juga berpengaruh. Tidak perlu bereaksi berlebihan kalaupun anak Anda ternyata kidal dan lebih nyaman menggunakan tangan kiri.

Belajar Letak dan Arah
Atas, bawah, depan, belakang, di luar, atau di dalam, anak akan mulai belajar hal-hal ini sekitar usia 17 bulan. Untuk semakin menstimulasinya, Anda dapat membuat berbagai permainan sederhana, misalnya menyuruh anak mencari suatu benda yang letaknya di bawah meja di dalam kamar kemudian memintanya untuk memindahkan benda itu ke atas kursi di bawah lukisan di ruang tamu, dan seterusnya.

Siapkah untuk Toilet Training?
Sebagian dokter dan ahli perkembangan anak menyatakan bahwa usia 18 bulan masih terlalu muda untuk dilatih dalam hal toilet training. Sebaliknya, orang tua jaman dulu umumnya sudah melatih anak menggunakan toilet sejak anak usianya 1 tahun. Yang mana yang benar dan ideal?

Sebenarnya hal ini tergantung pada kesiapan si anak. Untuk mengajar dan melatih anak mengenali sensasi ingin pipis kemudian menahannya sampai dia tiba di kamar mandi memang membutuhkan kesiapan anak secara kognitif dan psikologis. Umumnya keteraturan ini dapat dicapai saat anak berusia 2 tahun (meskipun ada pula yang sebelum atau sesudahnya).

Untuk menilai kesiapan anak bisa dilakukan dengan menjawab berbagai pertanyaan sebagai berikut: bisakah anakku mengikuti instruksi sederhana, misalnya untuk membuka celana, Bisakah dia tidak mengompol setidaknya 2 jam dalam sehari? Bisakah dia pergi ke toilet sendiri kemudian membuka dan memakai celananya sendiri?

Jika sebagian besar jawabannya ya atau bisa artinya Anda sudah bisa mencoba mulai melakukan toilet training. Langkah selanjutnya adalah menunjukkan pada si kecil apa yang seharusnya dia lakukan dalam kamar mandi. Sebaiknya anak laki-laki melihat ayahnya dan sebaliknya anak perempuan melihat ibu, agar mereka tidak dibingungkan dengan perbedaan jenis kelamin.

 

Tumbuh Kembang Anak 19-21 bulan
Sonya Tampubolon

Anak 19-21 bulan sepertinya semakin sulit dikendalikan, terutama dengan kesukaannya memanjat serta mencorat-coret, tapi sebenarnya dia sedang mulai melatih keseimbangan dan motorik halus.

 

 

Semangat yang tak terkendali

 

 

 

Usia 19 bulan:

 

Anak sedang melanjutkan pengujian terhadap daya penggeraknya. Dia akan semakin semangat berjalan ke belakang (backward), menyamping, menaiki dan menuruni tangga. Dia juga akan berusaha berlari ke sama kemari. Gerakan-gerakannya cenderung antusias sehingga bisa terkesan grasak-grusuk dan membuat Anda tidak tenang.

Akan tetapi hal ini sesungguhnya normal, termasuk jika ia sedikit demi sedikit tersandung dan jatuh. Yang penting Anda menyediakan tempat yang cukup nyaman dan aman baginya untuk berlari ke sana kemari, mengingat kemampuannya untuk mengendalikan belum sempurna, dia belum bisa memperkirakan kecepatan dan jarak yang ideal untuk berlari maupun berhenti.

 

 

Usia 20 bulan:

 

Yang sulit dikendalikan umumnya adalah kesukaannya untuk mencorat-coret. Biasanya pada usia ini anak tertarik menggambar garis-garis vertical dan horizontal, juga lingkaran. Meski terlihat sebagai bentuk-bentuk sederhana, namun hal ini juga memiliki pengaruh baik bagi perkembangan anak. Menggenggam krayon saat menggambar melibatkan kerja motorik halus, serta koordinasi mata dan tangan, serta melatih imajinasi anak.

Anda mungkin sebenarnya tidak memiliki keberatan apapun untuk mendukung hobi baru anak ini, akan tetapi masalahnya seringkali anak sangat suka mencorat-coret tembok dan wajar saja bila Anda merasa keberatan pada hal tersebut. Anda dapat memberi penjelasan secara perlahan pada anak bahwa tembok bukanlah tempatnya dia berkreasi, sediakan kertas, kanvas atau white board sebagai gantinya. Atau Anda juga bisa menyediakan space khusus di tembok (misalnya Anda berikan batas bingkai dengan kayu atau kain) sebagai tempat anak bergraffiti.

 

 

Usia 21 bulan:

 

Anda akan direpotkan dengan kebiasaan barunya yakni memanjat dan menguji keseimbangan tubuh. Meski hal ini pasti membuat Anda khawatir, namun dengan menyediakan tempat yang aman baginya untuk berlatih memanjat dan melatih keseimbangan sesungguhnya sangat baik untuk menyalurkan energi anak dan mendukung perkembangan balita secara fisik.

 

 

Belajar bagian-bagian tubuh dan membedakan rasa

 

Di antara rasa ingin tahunya, balita Anda pada usia ini akan mulai bertanya-tanya mengenai seluruh bagian tubuhnya. Saat masih bayi, anak baru menemukan tangan dan kaki, lalu tidak berhenti memainkannya. Hal yang kurang lebih sama akan terjadi pada balita, dan umumnya pada usia ini anak akan penasaran dengan alat kelaminnya. Jika Anda melihat anak sedang memainkan kelaminnya, jangan panik! Hal ini wajar dan sesuai dengan perkembangannya.
Balita usia 19-21 tahun pun biasanya mulai mengalami kerewelan saat makan, tidak semudah biasanya. Hal ini berkaitan dengan kemampuan baru anak, yakni mengenal rasa, tekstur dan warna makanan yang dikonsumsinya. Yang terbaik untuk dilakukan pada saat ini adalah memperkenalkan sebanyak mungkin jenis makanan, namun jangan memaksanya untuk mencicipi. Sebaiknya Anda pun memakan makanan itu seperti biasa, justru hal ini akan membuatnya ingin tahu dan mau mencicipinya.

Sekalipun balita Anda termasuk yang sudah mahir mengunyah, ada baiknya Anda menyediakan makanan dengan potongan-potongan yang lebih kecil untuk mencegah anak tersedak. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah penggunaan alat-alat makan. Pada usia ini sudah cukup baik untuk membiasakan anak makan sendiri, karena memang dia sedang melatih kemampuan motorik halusnya. Akan tetapi keahlian anak mengkoordinasi alat-alat makan memang masih sangat terbatas, sehingga mungkin dia masih akan menabrak sana-sini hingga berantakan. Alat makan dari plastik akan menjadi pilihan yang lebih baik untuk menghindari anak terluka.

 

Tumbuh Kembang Anak 22-24 bulan
Sonya Tampubolon

Menjelang dan memasuki usia 2 tahun beberapa hal ini dapat Anda temukan dalam tumbuh kembangnya. Jari-jari tangannya akan semakin cekatan, dia akan belajar berpakaian sendiri, dan dia akan siap untuk Toilet Training.

Jari-jari Kecil yang Cekatan
Pada usia 22 bulan kemampuan motorik halus anak akan semakin dilatih dan disempurnakan. Batita Anda akan sangat bersemangat menggunakan jari-jari kecilnya untuk menyusun balok, merangkai beads menjadi kalung, atau memasukkan dan mengeluarkan tali sepatu dari lubangnya seperti sedang menjahit.
Untuk mendukung perkembangan ini, Anda dapat menyediakan berbagai mainan dengan bahan empuk yang mudah dibentuk seperti bahan-bahan dough, clay atau lilin mainan. Si kecil akan menikmati aktivitas yang menyibukkan jarinya seperti menekan, meremas, atau menggulung.
Lebih jauh lagi, bukan hanya jari-jarinya yang akan terlatih. Seluruh otot tangan dan pergelangan akan turut bergerak. Selain meningkatkan kemampuan motorik halusnya, hal ini juga mendukung pertumbuhan fisik dan mental anak. Misalnya saat akan menyusun balok menjadi suatu bangunan, maka sebelumnya batita Anda akan terlatih untuk berpikir kreatif dalam menentukan bentuk bangunan yang akan disusun.

Belajar berpakaian sendiri
Sekitar usia 23 bulan, batita Anda akan mulai ingin berpakaian sendiri. Biasanya dia akan mulai dengan mencoba menepis tangan Anda dan membuka pakaiannya sendiri. Biarkan anak melakukannya, meskipun dia akan menghabiskan waktu lebih lama. Perhatikan cara anak saat melepaskan pakaiannya, karena dia bisa saja mengalami beberapa kesulitan.
Setelah bisa membuka pakaian, biasanya anak juga akan mencoba memakai pakaiannya sendiri. Untuk memudahkan dia (dan Anda juga sebenarnya), pilih pakaian yang relatif lebih sederhana dan mudah, misalnya dengan kancing yang besar dan tidak terlalu banyak, atau dengan retsleting. Kaus dan t-shirt yang loose atau siap pakai sebaiknya agak longgar agar tidak menyusahkan saat digunakan. Bukan hanya baju, batita Anda juga dapat bereksperimen dan bereksplorasi dengan berbagai aksesoris sederhana seperti topi yang lucu-lucu atau scarf.

Toilet Training
Memang tidak ada patokan umur bagi seorang anak harus mulai melakukan toilet training. Namun umumnya sekitar usia 2 tahun bisa menjadi usia yang ideal untuk mencoba mengajari anak mengontrol BAB dan BAK-nya, serta belajar menggunakan toilet untuk buang air.
Jangan terburu-buru dan terlalu memaksakan si kecil, karena toilet training adalah proses yang memerlukan waktu yang tidak sama pada masing-masing anak. Sebaliknya, Anda justru harus memperhatikan kesiapan si kecil. Karena bagaimanapun, itulah kunci utama keberhasilan toilet training. Semakin siap anak maka akan semakin mudah juga untuk melatihnya.
Langkah paling sederhana bagi batita dalam belajar ialah melalui imitasi. Biarkan anak mengamati Anda saat ke kamar mandi dan menggunakan toilet. Sebaiknya anak laki-laki melihat ayahnya dan sebaliknya anak perempuan melihat ibu, agar mereka tidak dibingungkan dengan perbedaan jenis kelamin.
Sekali-kali Anda juga dapat mendudukkannya di atas toilet, membukakan celananya dan memberitahunya bahwa nanti dia akan bisa menggunakan toilet sendiri untuk pipis, sama seperti Anda. Jangan ada unsur paksaan dan ekspektasi berlebihan, anggap hal ini sebagai permainan yang mendidik baginya.
Agar anak lebih mudah untuk mengontrolnya, bantulah ia untuk mengenali timbulnya keinginan untuk buang air. Pada beberapa anak, tanda-tanda bisa berupa: muka memerah, mengejan, berhenti bermain sejenak dan lain-lain. Permudah proses belajar toilet training si kecil dengan membelikannya celana dan pakaian yang mudah dibuka. Bahkan Anda juga dapat menyediakan potty chair dan membacakan potty books baginya.

 
 
 
 
Rumah Cerdas Depok
 
Pilihan Bahasa